Sabtu, 31 Oktober 2009

Arti Huruf

A : Accept.

Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

B : Believe.

Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

C : Care.

Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

D : Direct.

Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.

E : Earn.

Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.

F : Face.

Hadapi masalah dengan benar dan yakin.

G : Go.

Berangkatlah dari kebenaran.

H : Homework.

Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.

I : Ignore.

Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.

J : Jealously.

Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri.

K : Keep.

Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.

L : Learn.

Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

M : Mind.

Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.

N : Never.

Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol.

O : Observe.

Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.

P : Patience.

Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.

Q : Question.

Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.

R : Respect.

Hargai diri sendiri dan juga orang lain.

S : Self confidence, self esteem, self respect.

Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri membebaskan kita dari saat-saat tegang.

T : Take.

Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda.

U : Understand.

Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan anda.

V : Value.

Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.

W : Work.

Bekerja dengan giat, jangan lupa berdo'a.

X : X'tra.

Usaha lebih keras membawa keberhasilan.

Y : You.

Anda dapat membuat suatu yang berbeda.

Z : Zero.

Usaha nol membawa hasil nol pula.

Sumber : Patricia Patton (Pakar EQ)

Hati-Hati Dengan Hati

Seorang pria telungkup di tengah lapangan yang luas di bawah teriknya sinar matahari, dengan tas disampingnya. Lalu segerombolan orang menghampiri dan memeriksa keadaan pria tersebut. Meninggal, kata salah satu orang gerombolan tersebut. Mereka kemudian sepakat membuka tas disamping pria itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Ternyata mereka semua berpikiran sama, andai tas itu terbuka sesaat sebelumnya, maka pria tersebut mungkin tidak meninggal dalam keadaan seperti ini.

Apakah isi tas itu?? Hayo apa ayoo? Ternyata isi tas itu adalah parasut. Parasut itu gagal terbuka pada saat si pria melakukan terjun payung. Memang sangat menyedihkan dan naas. Parasut jadi penentu keselamatan jiwa para penerjun payung. Dan...begitu jugalah hati kita. Hati hanya akan berfungsi jika dalam keadaan terbuka, open heart-lah istilahnya gitu. Hati akan menjadi penyelamat. Kita akan menyerap petunjuk lebih mudah, menerima hidayah lebih mudah dan berprilaku lebih mulia. Jangan biarkan hati tertutup dengan butir-butiran kotoran hati, yang akan kian menebal jika tidak segera dibersihkan. Karena pada keadaan tertentu, kotoran hati tidak dapat dibersihkan dengan hanya sekali-dua kali kilapan 'wing porselen'!! Kotoran hati tersebut sudah menjadi bagian dari prilaku dan sikap keseharian manusia.

Oleh karena itu :
"Perhatikanlah hatimu karena ia akan menjadi fikiranmu

Perhatikanlah fikiranmu karena ia akan menjadi perkataanmu
Perhatikanlah perkataanmu karena ia akan menjadi perbuatanmu
Perhatikanlah perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu
Perhatikanlah kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu
Dan Perhatikanlah karaktermu karena ia akan menjadi lintasan hatimu"

Semuanya kembali kediri kita masing-masing. Tanyakan pada diri sendiri apa yang akan terlintas dalam hati kita pada saat ini, saat itu, dalam keadaan ini, dan jika berada dalam keadaan itu. Karena kalau bukan diri sendiri yang bertanya lalu siapa lagi.......??? Masa harus orang lain..hehe 'just try to do better'

Di Sebuah Kelas

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?"

Murid-murid tampak saling pandang.

Terdengar suara lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu...".

Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. "Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu..."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini".

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.

"Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!"

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

"Pak Guru..Pak, aku belum bercerita".

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

"Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua", ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. "Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?", Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu".

Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan...hahaha".

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.

Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

"Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku mengalami kebangkrutan. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa dikejar polisi".

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

"Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami tinggal. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi. Aku tak perlu lagi menumpang di tempat keluarga lain".

"Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut jikalau tiba-tiba aku diusir lagi. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di tempat orang lain. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya".

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.

"Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti...".

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.Mereka juga belajar satu hal :

"Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun... Sebesar apapun".

Curhatku

G tau knapa???

Ak kangen bgt ma dy

Kangeee…………………………..n bgt!!!!

Tapi ak tau semua udah lewat

G ada guna nya aku memelihara rasa ini

Buat apa aku memikirkan orang yang mungkin udah ga pernah mikirin aku…

Mungkin ingat aku aja engga,,,

Kenapa siy,,,

Otakku ini ga pernah bisa berhenti mikirin dy,,

GOBLOG BGT AKU INI!!!!!

KADANG SESUATU BARU BERARTI SAAT SEMUA UDAH PERGI

DAN AKU SANGAT KEHILANGAN

Kegagalan Itu Biasa

Perhatikan bagaimana kadang-kadang kita merasakan sebuah serangan 'demam' ketika kita melihat sesuatu yang sudah dimulai oleh orang lain. Dalam hati kita berkata, seandainya kita yang meneruskan pekerjaan itu, pasti keberhasilan sebentar lagi tercapai.

Bisa anda bayangkan bagaimana sia-sianya sikap orang yang menganggap yang sudah dilakukannya itu sebagai kegagalan?

Kegagalan itu sifatnya sangat pribadi.

Keputusan mengenai apakah sebuah pilihan tindakan kita, sudah bisa disebut gagal atau tidak, bisa dibuat oleh siapapun. Tetapi yang pasti hanya satu orang yang bisa menerima itu sebagai kegagalan. Kita.

Itu sebabnya kegagalan bersifat sangat pribadi. Kita yang menerima sesuatu sebagai kegagalan.

Toleransi terhadap tekanan dan penderitaan bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Itu sebabnya keputusan untuk menerima sebuah langkah sebagai kegagalan bergantung erat pada toleransi sebuah pribadi terhadap tekanan dan penderitaan.

Kegagalan itu sifatnya sangat pribadi.

Janganlah kita menjadi orang yang paling cepat memutuskan
sesuatu sebagai kegagalan.

Kesalahan adalah bagian dari sistem koreksi alam.

Yang baik disalahkan supaya benar, lurus, dan naik.
Yang buruk disalahkan supaya turun derajatnya, habis hartanya, dan hapus kuasanya, tetapi tetap untuk mengundangnya kembali kepada kebaikan.

Kesalahan diciptakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang belum dilahirkan. Sehingga setelah kelahirannya nanti, mereka bisa berlaku dengan kemungkinan berhasil yang lebih baik.

Semua penderitaan yang datang dari kegagalan adalah tanda bahwa kita belum mengerti betul penyebab timbulnya kesalahan yang mengakibatkan kegagalan itu.

Orang-orang berani, mempelajari kesalahan-kesalahan mereka dengan ketelitian seorang dokter bedah. Pencerahan yang dihasilkan dari pengamatan yang detil itu akan menghilangkan demotivasi yang biasanya menyertai kegagalan.

Mereka akan betul-betul mengerti bahwa kegagalan itu adalah sebuah konsekwensi logis dari sebuah tindakan. Yang kalau tidak berhasil, ya, . gagal. Tidak ada setengah-setengah, karena selama kita tidak gagal, kita telah 'berhasil' untuk tidak gagal.

Orang-orang yang berhasil mengelola kesalahan-kesalahannya dengan baik, akan merasakan luasnya bumi tempat mereka berpijak. Dan mereka juga akan melihat luasnya langit yang menyediakan ruang untuk tumbuh.

Bersabarlah terhadap kesalahan-kesalahan orang lain, karena anda juga menginginkan penerimaan yang sama terhadap kesalahan-kesalahan anda.

Jatuh itu wajar, tetapi jangan lama berbaring di situ.

Rahasia 90/10

Rahasia 90/10 memang luar biasa! Sedikit yang tahu dan menerapkan rahasia ini. Hasilnya? Jutaan orang menderita stress yang tidak diinginkan, pencobaan, masalah dan sakit kepala. Hari-hari buruk datang mengikuti hari-hari buruk. Hal-hal tidak enak kelihatannya selalu terjadi. Kekhawatiran menghabiskan banyak waktu, amarah memutuskan persahabatan dan hidup kelihatan menjadi menakutkan dan tidak dinikmati sepenuhnya. Sahabat hilang. Hidup membosankan dan sering kelihatan kejam. Apakah ini menggambarkan keadaan mu? Jika ya, jangan tawar hati. Engkau dapat berubah! Pahami dan lakukan rahasia 90/10. Itu akan mengubah hidupmu!

Apa Rahasia 90/10?

10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita. 90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi / memberi respon.

Apa artinya?

Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil. Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita. Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas. Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini.

Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90% !

Bagaimana dengan reaksi kita?. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita. Jangan biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita!

Mari lihat sebuah contoh : Engkau sedang sarapan bersama keluarga. Adik perempuanmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerja mu. Engkau tidak dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu. Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana engkau bereaksi.

Engkau mengumpat. Engkau dengan kasar memarahi adik mu yang menumpahkan kopi. Dia menangis. Setelah itu, engkau melihat ke istri mu, dan mengkritiknya karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja. Pertempuran kata-kata singkat menyusul. Engkau naik pitam dan kemudian pergi mengganti kemeja.

Setelah itu engkau kembali dan melihat adik perempuan mu sedang menghabiskan sarapan sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah. Dia ketinggalan bis sekolah. Istrimu harus segera berangkat kerja. Engkau segera menuju mobil dan mengantar adik mu ke sekolah. Karena engkau terlambat, engkau mengendarai mobil melewati batas kecepatan maksimum. Setelah tertunda 15 menit karena harus membayar tilang, engkau tiba di sekolah. Adikmu berlari masuk. Engkau melanjutkan perjalanan, dan tiba di kantor terlambat 20 menit, dan engkau baru sadar, bahwa tas kerjamu tertinggal. Hari-mu begitu buruk. Engkau ingin segera pulang. Ketika engkau pulang, engkau menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan adikmu. Kenapa? Karena reaksimu pagi tadi. Kenapa hari mu buruk?

a) Karena secangkir kopi yang tumpah?

b) Kecerobohan adikmu

c) Polisi yang menilang?

d) Karena dirimu sendiri?

Jawaban-nya adalah D. Engkau tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu. Bagaimana reaksi-mu 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan hari mu menjadi buruk.

Ini yang mungkin terjadi jika engkau bereaksi dengan cara yang berbeda. Kopi tumpah di kemejamu. Adikmu sudah siap menangis. Engkau dengan lembut berkata "Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu lebih hati-hati ya". Engkau pergi mengganti kemejamu dan tidak lupa mengambil tas kerjamu. Engkau kembali dan melihat adikmu sedang naik ke dalam bus sekolah. Istrimu menciummu sebelum engkau berangkat kerja. Engkau tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang menyalami para karyawan. Atasanmu berkomentar tentang bagaimana baiknya hari ini buatmu.

Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal yang sama, tapi berakhir dengan berbeda. Kenapa? Karena REAKSI kita. Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi. Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

Di Buat Oleh Kakaku Elfiana Pradnya Paramita

Perkenankanlah Aku MencintaiMu Semampuku

Tuhanku

Aku masih ingat , saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu

Lembar demi lembar kitab kupelajari

Untai demi untai kata para ustadz kuresapi syuhada

Tentang cinta para nabi

Tentang kasih para sahabat

Tentang mahabbah para sufi

Tentang kerinduan para syuhada

Lalu kutanamkan di jiwa dalam – dalam

Kutumbuhkan dalam mimpi – mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Tapi Rabbi ,

Berbilang detik , menit , jam, hari , pekan , bulan , dan kemudian tahun berlalu…

Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama , tapi…

Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…

Aku makin merasakan gelisahku membadai…

Dalam cita yang mengawang

Sedang kakiku mengambang , tiada menjejak bumi…

Hingga aku terhempas dalam jurang

Dan kegelapan…

Wahai Illahi,

Kemudian berbilang detik , menit , jam , hari , pekan , bulan , dan tahun berlalu…

Aku mencoba merangkak , menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali

Menatap , memohon , dan mengibaMu

Allahu Rahim , Illahi Rabbi ,

Perkenankanlah aku mencintaiMu,

Semampuku

Allahu Rahmaan , Illahi Rabbi ,

Perkenankanlah aku mencintaiMu

Sebisaku

Dengan segala kelemahanku

Illahi ,

aku tak sanggup mencintaiMu

dengan kesabaran menanggung derita

Umpama Nabi Ayyub, Musa , Isa hingga Al musthafa

Karena itu izinkanlah aku mencintaiMu

Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu

Atas derita batin dan jasadku

Atas sakit dan ketakutanku

Rabbii,

Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar , yang menyedekahkan seluruh hartanya

Dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga.

Atau layak Umar yang menyerahkan separoh harta demi jihad.

Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dianMu.

Izinkanlah aku mencintaiMu,

Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan- tangan kecil di perempatan,

Jalan

Pada wanita – wanita tua yang menadahkan tangan di pojok – pojok jembatan.

Pada makanan – makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Illahi,

Aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya sholat salah seorang sahabat nabiMu

Hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam dikakinya.

Karena itu Yaa Allah,

Perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu

Dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,

Meski terkadang ingatan melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Robbi ,

Aku tak dapat beribadah ala sufi dan rahib ,

Yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu.

Maka izinkanlah aku mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.

Dalam satu dua sunnah nafilahMu.

Dalam desah napas keprasahan tidurku.

Yaa Maha Rahmaan ,

Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah ,

Yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam.

Perkenankanlah aku mencintaiMu,

Melalui selembar dua lembar tilawah harianku.

Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaaa Rahiim,

Aku tak sanggup mancintaiMu semisal Sumayyah ,

Yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu.

Seandainya para syuhada ,

Yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu.

Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu

Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu kariim,

Aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya ,

Bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra zaujahnya ,

Dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.

Maka izikanlah aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku , dengan mencintai sahabat – sahabatku , dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allahu Rahmaanurrahiim , Illahi Rabbii,,

Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku.

Agar cinta itu mengalun dalam jiwa

Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

Hamba

(29 Agustus 2008 , tertatih meniti cinta dalam 2 tahun waktu yang Kau berikan)